Informasi lengkap mengenai provinsi Nusa Tenggara Barat
A. Geografi
Provinsi NTB terdiri atas 2 (dua) pulau besar yaitu Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa dan ratusan pulau-pulau kecil. Dari 280 pulau yang ada, terdapat 32 pulau yang telah berpenghuni. Terletak antara 115° 46'–119° 5' Bujur Timur dan 8° 10'–9 °g 5' Lintang Selatan. Selong merupakan kota yang mempunyai ketinggian paling tinggi, yaitu 148 m dari permukaan laut, sementara Raba terendah dengan 13 m dari permukaan laut. Dari tujuh gunung yang ada di Pulau Lombok, Gunung Rinjani merupakan gunung tertinggi dengan ketinggian 3.775 m, sedangkan Gunung Tambora merupakan gunung tertinggi di Sumbawa dengan ketinggian 2.851 m.
Sungai-sungai di Nusa Tenggara Barat dikelompokkan ke dalam dua wilayah sungai, yaitu Wilayah Sungai (WS) yaitu WS Lombok dan WS Sumbawa. WS Lombok terdiri atas 197 DAS dan WS Sumbawa 555 DAS.
B. Luas dan batas wilayah
Luas wilayah Provinsi NTB mencapai 20.153,20 km2. Luas Pulau Sumbawa mencapai 15.414,5 km2 (76,49 %) atau 2/3 dari luas Provinsi NTB, dan luas Pulau Lombok hanya mencapai 1/3 saja.
Batas Wilayah
C. Sejarah
Keberadaan status provinsi, bagi NTB tidak datang dengan sendirinya. Perjuangan menuntut terbentuknya Provinsi NTB berlangsung dalam rentang waktu yang cukup lama. Provinsi NTB, sebelumnya sempat menjadi bagian dari Negara Indonesia Timur dalam konsepsi Negara Republik Indonesia Serikat,dan menjadi bagian dari Provinsi Sunda kecil setelah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia.
Seiring dinamika zaman dan setelah mengalami beberapa kali proses perubahan sistem ketatanegaraan pasca diproklamasikannya Kemerdekaan Republik Indonesia, barulah terbentuk Provinsi NTB. NTB, secara resmi mendapatkan status sebagai provinsi sebagaimana adanya sekarang, sejak tahun 1958, berawal dari ditetapkannya Undang-undang Nomor 64 Tahun 1958 Tanggal 14 Agustus 1958 tentang Pembentukan Daerah-daerah Swatantra Tingkat I Bali, NTB dan NTT, dan yang dipercayakan menja di Gubernur pertamanya adalah AR. Moh. Ruslan Djakraningrat.
Walaupun secara yuridis formal Daerah Tingkat I NTB yang meliputi 6 Daerah Tingkat II dibentuk pada tanggal 14 Agustus 1958, namun penyelenggaraan pemerintahan berjalan berdasarkan Undang- undang Negara Indonesia Timur Nomor 44 Tahun 1950, dan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1957 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah. Keadaan yang tumpang tindih ini berlangsung hingga tanggal 17 Desember 1958, ketika Pemerintah Daerah Lombok dan Sumbawa dilikuidasi. Hari likuidasi inilah yang menandai resmi terbentuknya Provinsi NTB. Zaman terus berganti, konsolidasi kekuasaan dan pemerintahan pun terus terjadi.
Unsur-Unsur Yang Tertulis Dalam Lambang Daerah Provinsi NTB
•Rantai yang terdiri dari 4 berbentuk bundar dan yang 5 berbentuk segi empat, melambangkan tahun 45 (1945).
•Padi dan kapas. Butiran padi sebanyak 58 butir, dan daun kapas sebanyak 17 dan bunga kapas sebanyak 12 kuntum yang semuanya melambangkan tanggal 17 Desember 1958 yaitu saat berdirinya Provinsi NTB.
•Bintang segi lima yang melambangkan 5 sila dari Pancasila.
•Gunung yang berasap menunjukkan Gunung Rinjani, gunung berapi yang tertinggi di Pulau Lombok.
•Kubah melambangkan penduduk Provinsi NTB yang taat dan patuh melaksanakan perintah-perintah agamanya.
•Kijang, melambangkan binatang khas yang banyak terdapat di Pulau Sumbawa.
•Prisai sebagai bentuk luar atau latar belakangnya, melambangkan kebudayaan/kesenian rakyat Provinsi NTB dan juga melambangkan jiwa kepahlawanannya.
•Tulisan berbunyi: NTB, ialah nama Daerah yang berpemerintahan sendiri yang terdiri dari Pulau Lombok dan Sumbawa.
Arti-Arti Warna Yang Dipakai:
•Biru: kesetiaan, Daerah Provinsi NTB adalah Daerah yang selalu setia pada perjuangan Bangsa Indonesia.
•Hijau: kemakmuran, kemakmuran adalah cita-cita kita semua dan juga tanda kesuburan dari Daerah Provinsi NTB.
•Putih: Kesucian, keluhuran rakyat Provinsi NTB yang senantiasa taat bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa yang langsung pula menjiwai rakyatnya, bercita-cita luhur dan suci serta tindak tanduk baik rokhaniah maupun jasmaniah berdasarkan kesucian.
•Kuning: kejayaan, keberanian berjuang atas dasar kesucian itu maka membawa kita pada kejayaan.
•Hitam: abadi, kejayaan yang berdasarkan atas landasan yang luhur akan abadi.
•
Merah: keberanian, kepahlawanan, berjiwa hidup dan dinamis untuk menegakkan kebenaran dan keadilan.
D. Demografi
Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri mencatat, jumlah penduduk Nusa Tenggara Barat (NTB) sebanyak 5,41 juta jiwa pada Juni 2021. Dari jumlah tersebut, terdapat 3,69 juta jiwa (68,23%) penduduk NTB adalah kelompok usia produktif (15-64 tahun).
Ada pula 1,72 juta jiwa (31,77%) penduduk NTB yang termasuk kelompok usia tidak produktif. Rinciannya, sebanyak 1,45 juta jiwa (26,84%) penduduk di provinsi tersebut yang merupakan kelompok usia belum produktif (0-14 tahun). Terdapat pula 266,69 ribu jiwa (4,93%) penduduk NTB adalah kelompok usia sudah tidak produktif (65 tahun ke atas).
Berdasarkan jenis kelamin, terdapat 2,69 juta jiwa penduduk NTB berjenis kelamin laki-laki. Ada pula 2,71 juta jiwa penduduk di provinsi tersebut yang berjenis kelamin perempuan.
Menurut status perkawinan, terdapat 2,45 juta jiwa (45,34%) penduduk NTB yang berstatus belum kawin dan ada 2,68 juta jiwa (49,53%) yang berstatus kawin. Ada pula 109,7 ribu jiwa (2,03%) penduduk NTB yang berstatus cerai hidup dan sebanyak 167,79 ribu jiwa (3,1%) yang berstatus cerai mati.
NTB merupakan provinsi dengan luas wilayah 18.572 ribu km persegi yang secara administrasi terbagi dalam 8 kabupaten dan 2 kota. Di provinsi tersebut terdapat 1,76 kepala keluarga (KK).
E. Agama dan Suku Bangsa
Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri (kemendagri) mencatat, jumlah penduduk Nusa Tenggara Barat (NTB) sebanyak 5,41 juta jiwa pada Juni 2021. Dari jumlah tersebut, sebanyak 5,23 juta jiwa (96,83%) beragama Islam.
Sebanyak 130,72 ribu (2,42%) penduduk NTB memeluk agama Hindu. Terdapat pula 16,91 ribu (0,31%) penduduk di provinsi tersebut yang beragama Buddha.
Sebanyak 40 penduduk NTB tercatat beragama Konghucu. Sementara, penduduk NTB yang menganut aliran kepercayaan sebanyak 58 jiwa.
Mayoritas penduduk yang mendiami provinsi Nusa Tenggara Barat adalah suku asli setempat, yakni 93,33% termasuk suku Sasak 67,57%
Bima, Sumbawa, Dompu serta Lainnya 25,76%. Berdasarkan data dari Sensus Penduduk Indonesia 2010, berikut ini komposisi etnis atau suku bangsa di provinsi Nusa Tenggara Barat:
https://id.wikipedia.org/wiki/Nusa_Tenggara_Barat#Demografi
F. EKONOMI
- Perkembangan Ekonomi Makro Daerah
Perekonomian NTB pada triwulan II 2022 tumbuh sebesar 5,99% (yoy), melambat dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh 7,76% (yoy). Pertumbuhan dari sisi Lapangan Usaha (LU) didukung oleh peningkatan kinerja LU Pertambangan dan LU Transportasi. Secara khusus, pertumbuhan lebih tinggi relatif tertahan oleh penurunan kinerja LU Pertanian dan LU Konstruksi, serta perlambatan LU Perdagangan seiring dengan belum kuatnya aktivitas konsumsi masyarakat. Dari sisi pengeluaran, mayoritas komponen utama tercatat tumbuh lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya. Konsumsi RT tercatat melambat sejalan dengan LU Perdagangan seiring belum kuatnya daya beli. Ekspor juga tumbuh melandai seiring dengan perlambatan kinerja ekspor konsentrat tembaga. Sementara itu, PMTB dan Konsumsi Pemerintah tercatat mengalami kontraksi.
- Keuangan Pemerintah
Perbaikan kinerja keuangan Pemerintah di wilayah NTB pada triwulan II 2022 didorong oleh realisasi belanja APBD Provinsi dan belanja APBD Kota/Kabupaten yang masing-masing meningkat sebesar 6,16% dan 2,27% (yoy). Selain itu, realisasi pendapatan APBN dan APBD Provinsi juga tumbuh masing-masing sebesar 33,78% dan 9,54% (yoy). Perbaikan kinerja keuangan Pemerintah yang lebih tinggi relatif tertahan oleh anggaran belanja total APBN dan APBD di wilayah NTB tahun 2022 yang tercatat mengalami penurunan 1,38% (yoy).
- Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan
Kondisi ketenagakerjaan di Provinsi NTB berdasarkan data Februari 2022 tercatat mulai mengalami perbaikan sejalan pemulihan ekonomi yang terus berlanjut, tercermin dari tren penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dibandingkan dengan periode Februari 2021. Ditinjau secara spasial, tingkat pengangguran di perkotaan per Februari 2022 mengalami penurunan sedangkan di perdesaan mengalami peningkatan.
Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Provinsi NTB yang mulai masih melanjutkan tren positif pada tahun 2022, kondisi kesejahteraan masyarakat NTB pada periode Maret 2022 membaik dibandingkan periode Maret 2021 serta sudah sedikit membaik dibandingkan periode September 2019 (pra pandemi). Perbaikan tingkat kesejahteraan di tingkat petani tertahan oleh Nilai Tukar Petani (NTP) pada triwulan II 2022 yang menurun dibandingkan triwulan sebelumnya.
- Prospek Perekonomian Daerah
Ekonomi Provinsi NTB pada tahun 2022 diperkirakan akan tumbuh pada kisaran 6,4% – 7,2% (yoy), mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2021 yang mencatatkan pertumbuhan sebesar 2,30% (yoy). Dari sisi pengeluaran, peningkatan perekonomian didorong oleh kinerja Konsumsi Rumah Tangga, Konsumsi Pemerintah, serta Ekspor Luar Negeri (LN) yang diperkirakan tumbuh lebih tinggi sejalan dengan perbaikan mobilitas masyakarat dan aktivitas ekonomi secara umum, serta didukung oleh kenaikan ekspor konsentrat tembaga. Dari sisi lapangan usaha (LU), proyeksi peningkatan utamanya didukung oleh ekpektasi kenaikan kinerja pada seluruh LU utama, kecuali LU Konstruksi yang masih tertahan paska penyelesaian sejumlah proyek strategis pada tahun 2021.
G. PEMERINTAHAN
Gubernur pertama AR. Moh. Ruslan Tjakraningrat digantikan oleh HR.Wasita Kusuma sebagai Gubernur kedua. Dengan mulai bergulirnya program pembangunan lima tahun tahap pertama (Pelita I) langkah perbaikan ekonomi, sosial, politik mulai terjadi
Pada tahun 1978 H.R.Wasita Kusuma digantikan H.Gatot Soeherman sebagai Gubernur Provinsi NTB yang ketiga. Dalam masa kepemimpinannya, usaha-usaha pembangunan kian dimantapkan dan Provinsi NTB yang dikenal sebagai daerah minus, berubah menjadi daerah swasembada. Pada tahun 1988 Drs. H. Warsito, SH terpilih memimpin NTB menjadi Gubernur NTB yang ke empat menggantikan H. Gatot Soeherman. Drs.H.Warsito, SH mengendalikan tampuk pemerintahan di Provinsi NTB untuk masa dua periode, sebelum digantikan Drs. H. Harun Al Rasyid, M.Si pada tanggal 31 Agustus 1998. Drs. H. Harun Al Rasyid M.Si (Gubernur NTB ke lima) berjuang membangun NTB dengan berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui Program Gema Prima. Tahun 2003 hingga 1 september 2008 Drs. H. Lalu Serinata dan wakil Gubernur Drs.H.B. Thamrin Rayes memimpin NTB sebagai Gubernur NTB ke enam. Pada masa ini berbagai macam upaya dilakukan dalam membangun NTB dan mengejar ketertinggalan diberbagai bidang dan sektor. Di zaman ini,sejumlah program diluncurkan, seperti Gerbang E-Mas dengan Program Emas Bangun Desa. Selain itu, pada masa ini pembangunan Bandara Internasional Lombok di Lombok Tengah mulai terealisasi dan ditargetkan rampung pertengahan 2009.
Selanjutnya sesuai dengan perkembangfan zaman dan perkembangan politik, masyarakat NTB menitipkan amanah untuk memimpin pembangunan Daerah kepada Gubernur ke tujuh yaitu TGH. M. Zainul Majdi dan Wakil Bapak Ir. Badrun Munir, MM yang memperjuangkan visi NTB bersaing beriman dan berdaya saing dan atas keberhasilan memimpin pada priode pertama masyarakat NTB kembali mempercayakan kendali pemerintahan ke 2 kalinya pada Bapak DR. TGH. M. Zainul Majdi sebagai Gubernur dan Bapak H. Muhammad Amin, SH, M.Si sebagai Wakil Gubernur pada priode tahun 2013-2018 melalui visi misi terwujudnya NTB yang beriman berbudaya, berdaya saing dan sejahtera.
Dalam usianya yang ke-60 Provinsi NTB kini dipimpin oleh pasangan putra dan putri terbaiknya yaitu Gubernur NTB, Dr.H.Zulkieflimansyah dan Wakil Gubernur Dr Hj.Siti Rohmi Djalilah.
Dewan Perwakilan
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat
DPRD NTB beranggotakan 65 orang yang dipilih melalui pemilihan umum setiap lima tahun sekali. Pimpinan DPRD NTB terdiri dari 1 Ketua dan 3 Wakil Ketua yang berasal dari partai politik pemilik jumlah kursi dan suara terbanyak. Anggota DPRD NTB yang sedang menjabat saat ini adalah hasil Pemilu 2019 yang dilantik pada 2 September 2019 oleh Ketua Pengadilan Tinggi Mataram, Kresna Menon, di Gedung DPRD Provinsi NTB.
Komposisi anggota DPRD NTB periode 2019-2024 terdiri dari 12 partai politik dimana Partai Golkar adalah partai politik pemilik kursi terbanyak yaitu 10 kursi, kemudian disusul oleh Partai Gerindra yang meraih 9 kursi serta Partai Persatuan Pembangunan, Partai Keadilan Sejahtera, dan Partai Demokrat yang masing-masing meraih 7 kursi. Selama masa reformasi, jumlah anggota DPRD NTB pada awalnya hanya 45 orang, kemudian bertambah menjadi 55 orang pada Pemilu 2004 dan bertambah lagi menjadi 65 orang pada Pemilu 2014. DPRD NTB paling sedikit ditempati oleh 10 partai politik dan paling banyak oleh 15 partai politik. Partai Golongan Karya merupakan pemenang bertahan selama masa reformasi sehingga tidak mengherankan jika posisi Ketua DPRD NTB selalu diisi oleh kadernya.
H. Pariwisata
Dalam konteks geografi kepariwisataan, Provinsi NTB berada pada posisi yang sangat strategis atau berada dalam Segi Tiga Emas Daerah Tujuan Wisata (DTW) utama Indonesia yaitu Pulau Bali di sebelah barat yang merupakan Daerah Tujuan Wisata Internasional, Taman Nasional Pulau Komodo dengan Biawak Komodonya terkenal di sebelah timur dan Tanah Toraja yang terkenal dengan pariwisata budayanya di sebelah Utara.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat selaku pelaksana urusan rumah tangga daerah dan pembangunan pariwisata, dalam hal ini yang bertanggung jawab terhadap pengembangan dan pembangunan pariwisata. Mempunyai Visi “Terwujudnya Nusa Tenggara Barat sebagai Daearah Tujuan Wisata Berdaya Saing Internasional, ”
Berikut adalah beberapa tempat wisata yang terdapat di Provinsi NTB:
1. Pantai Senggigi
2. Pantai Pink
3. Gili Trawangan
4. Taman Narmada
5. Gunung Rinjani
6. Pura Batu Bolong
7. Pantai Kuta Lombok
8. Pantai Sire
9. Pantai Sekotong
10. Batu Layar
11. Ampenan Kota Tua
12. Gunung Tambora
13. Pulau Satonda
14. Pulau Kenawa
I. Kebudayaan
provinsi Nusa Tenggara Barat sendiri memiliki beberapa kota dengan keanekaragaman budaya dan adat istiadat masing-masing. Berikut kebudayaan yang ada di PROV. NTB
- Suku di Nusa Tenggara Barat
- Bahasa Daerah Nusa Tenggara Barat
Tercatat memiliki beberapa bahasa daerah yang digunakan oleh masyarakat Nusa Tenggara Barat, seperti bahasa daerah Sasak, Mbojo, Bojo dan Bali. Walaupun memiliki bahasa daerah yang beragam, sehari-harinya masyarakat setempat menggunakan bahasa Sasak.
- Rumah Adat Nusa Tenggara Barat
Rumah adat dari Nusa Tenggara Barat yang paling terkenal yakni rumah adat sade berasal dari suku Sasak. Rumah adat ini terletak di desa Rembitan, Lombok Tengah. Sampai sekarang, masyarakat sekitar masih memegang teguh tradisi dan kelestarian rumah adat sade.
Suku Sasak percaya bahwa untuk membangun rumah adat terdapat aturan yang harus dipatuhi. Misalnya waktu yang tepat untuk mendirikan rumah adat. Jika aturan tersebut diabaikan, akan ada nasib buruk ketika menempati rumah tersebut.
- Pakaian Adat Nusa Tenggara Barat
Pakaian adat suku Sasak bernama lambung. Pakaian ini dikenakan khusus oleh wanita pada waktu menyambut kedatangan tamu dan saat upacara adat mendakin atau nyongkol.
Pakaian lambung berwarna hitam dan memiliki bentuk kerah baju “V”. Pakaian ini dihiasi manik-manik pada tepian jahitan dan dilengkapi dengan selendang yang bercorak pada bahu kanan dan kiri.
Bawahan pakaian lambung merupakan kain panjang yang dililitkan pada pinggang. Pakaian ini juga dilengkapi aneka ragam aksesori seperti anting berbentuk bulat, gelang tangan dan bunga mawar yang terselip pada sanggulan rambut.
- Tarian Daerah Nusa Tenggara Barat
Tari oncer merupakan salah satu tari daerah suku Sasak. Tarian oncer dimainkan oleh tiga kelompok, di mana masing-masing kelompok terdiri dari 6-8 penari yang bertugas membaca kencang dan dua orang membawa gendang dan satu orang membawa petuk.
Hal lainnya yang perlu diketahui yakni bahwa, tari oncer selalu memerankan sosok laki-laki karena tari ini menggambarkan suasana perang. Namun, perannya bisa dilakukan oleh semua gender. Alat musik yang digunakan saat mementaskan tari ini adalah gendang, gong, ceng-ceng, rincik, suling, dan reong.
J. Tokoh Terkenal
Mengenal Zainuddin Abdul Madjid, Ulama dan Pahlawan yang Jadi Nama Bandara di NTB. Tuan Guru Kiyai Haji (TGKH) Muhammad Zainuddin Abdul Madjid adalah salah satu ulama besar yang ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo sebagai pahlawan nasional pada 2017.
Pada 1934, sepulang dari mekkah dia mendirikan sebuah pesantren yang namanya kental dengan perjuangan bernama Al-Mujahidin (para pejuang). Perhatian kepada situasi Lombok saat itu yang masih berjuang melawan penjajah mendoronnya mendirikan sebuah madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) dua tahun setelah mendirikan pesantren.
Pada zaman penjajahan, Zainuddin Abdul Madjid juga menjadikan madrasah NWDI dan NBDI sebagai pusat pergerakan kemerdekaan, tempat menggembleng patriot-patriot bangsa yang siap bertempur melawan dan mengusir penjajah. Bahkan, Zainuddin Abdul Majid bersama guru-guru Madrasah NWDI-NBDI membentuk suatu gerakan yang diberi nama “Gerakan al-Mujahidin”. Gerakan al-Mujahidin ini bergabung dengan gerakan-gerakan rakyat lainnya di Pulau Lombok untuk bersama-sama membela dan mempertahankan kemerdekaan dan keutuhan Bangsa Indonesia. Dan pada tanggal 7 Juli 1946, TGH.
Zainuddin Abdul Madjid wafat pada 21 Oktober 1997 di usia ke-99 tahun menurut kalender Masehi, atau usia 102 tahun menurut Hijriah. Sang ulama karismatis, Tuan Guru Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, berpulang ke rahmatullah sekitar pukul 19.53 WITA di kediamannya di Bermi Pancor, Lombok Timur. Pada tanggal 6 November 2017 berdasarkan surat Keputusan Presiden RI No. 115/TK/Tahun 2017 Muhammad Zainuddin Abdul Majid dianugrahi gelar Pahlawan Nasional oleh Jokowi.
K. Perguruan tinggi dan pendidikan
Saat ini lebih dari 80 perguruan tinggi yang berada di NTB. Perguruan tinggi
tersebut terdiri dari perguruan tinggi negeri (PTN), Perguruan tinggi swasta (PTS)
dibawah lembaga LLDIKTI VIII, Perguruan tinggi agama (PTA), Dan perguruan
tinggi kementrian (PTK)
- Daftar Perguruan Tinggi Negeri
1. Universitas Mataram (UNRAM)
2. Universitas Islam Negeri Mataram (UIN Mataram)
3. Akademi Komunitas Negeri Mataram
- Daftar Perguruan Tinggi Swasta
Universitas Swasta di NTB
1. Universitas Bima Sakti, Bima
2. Universitas Bumigora, Mataram
3. Universitas Cordova, Sumbawa Barat
4. Universitas 45 Mataram, Mataram
5. Universitas Gunung Rinjani, Lombok Timur
6. Universitas Hamzanwadi, Lombok Timur
7. Universitas Harapan Bima, Bima
8. Universitas Islam Al-Azhar Mataram, Mataram
9. Universitas Mahasaraswati Mataram, Mataram
10. Universitas Muhammadiyah Mataram, Mataram
11. Universitas Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat, Mataram
12. Universitas Nahdlatul Wathan Mataram, Mataram
13. Universitas Nusa Tenggara Barat, Mataram
14. Universitas Pendidikan Mandalika, Mataram
15. Universitas Samawa, Sumbawa Besar
16. Universitas Teknologi Sumbawa, Sumbawa Besar
- Politeknik Swasta di NTB
1. Politeknik Kesehatan Surya Mandiri, Bima
2. Politeknik Kesehatan Kemenkes Bima, Bima
- Akademi Swasta di NTB
1. Akademi Keperawatan Harapan Bunda, Bima
2. Akademi Kebidanan Harapan Bunda, Bima
3. Akademi Kebidanan Surya Mandiri, Bima
4. Akademi Bahasa Asing Bumi Gora Mataram, Mataram
5. Akademi Keperawatan Samawa, Sumbawa Besar
6. Akademi Keperawatan Anugerah Abadi,Sumbawa Besar
7. Akademi Sekretari dan Manajemen Mataram, Mataram
8. Akademi Manajemen Informatika Komputer Mataram, Mataram
9. Akademi Teknik Bima, Bima
Dinas Pendidikan & Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Barat berkomitmen penuh dalam mewujudkan visi dan misi NTB Gemilang periode 2018-2023. Amanah yang diberikan melalui misi NTB Sehat & Cerdas serta NTB Aman & Berkah dijadikan pedoman dalam meningkatkan mutu pendidikan di Nusa Tenggara Barat. Salah satu upaya menuju misi tersebut adalah melalui Motto Program 4P yaitu :
https://dikbud.ntbprov.go.id/




















